Tradisi Selikuran: Lailatul Qadar di Keraton & Masyarakat Jawa

115. Tradisi Selikuran: Malam Lailatul Qadar di Keraton dan Masyarakat Jawa

Hai, para pembaca setia! Pernah nggak sih kalian mendengar tentang malam Lailatul Qadar? Malam yang katanya lebih baik dari seribu bulan? Nah, di Jawa, khususnya di keraton dan masyarakat tradisional, malam istimewa ini disambut dengan tradisi unik bernama Selikuran. Penasaran kan, apa itu Selikuran dan bagaimana kemeriahannya? Yuk, simak cerita lengkapnya!

Saya sendiri, sebagai orang Jawa, tumbuh besar dengan mendengar cerita tentang Selikuran. Dulu, waktu kecil, saya sering diajak orang tua melihat arak-arakan obor di malam Selikuran. Suasananya meriah sekali! Aroma dupa bercampur dengan wangi bunga setaman, suara gamelan mengalun syahdu, dan wajah-wajah khusyuk orang-orang yang berjalan beriringan membawa obor. Pengalaman itu membekas kuat di ingatan saya, dan membuat saya ingin tahu lebih banyak tentang tradisi Selikuran ini.

Apa Itu Selikuran?

Secara etimologi, "Selikuran" berasal dari bahasa Jawa, yaitu "selikur" yang berarti dua puluh satu. Maksudnya, Selikuran dilaksanakan pada malam ke-21 bulan Ramadan, dan terus berlanjut hingga malam ke-29. Malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadan memang dipercaya sebagai waktu turunnya Lailatul Qadar.

Lalu, apa hubungannya Selikuran dengan Lailatul Qadar? Masyarakat Jawa meyakini bahwa malam Lailatul Qadar adalah malam yang penuh berkah dan ampunan. Oleh karena itu, mereka berlomba-lomba melakukan ibadah, mendekatkan diri kepada Tuhan, dan memohon keberkahan di malam-malam ganjil tersebut. Selikuran menjadi salah satu wujud konkret dari upaya masyarakat Jawa untuk meraih keberkahan Lailatul Qadar.

Sejarah Panjang Tradisi Selikuran


Sejarah Panjang Tradisi Selikuran

Tradisi Selikuran memiliki akar sejarah yang panjang dan erat kaitannya dengan perkembangan Islam di Jawa. Menurut beberapa sumber, tradisi ini sudah ada sejak zaman Kerajaan Demak, kerajaan Islam pertama di Jawa. Konon, para raja Demak sering berkeliling kota pada malam-malam ganjil di bulan Ramadan untuk memantau kondisi rakyatnya sekaligus beribadah dan mendekatkan diri kepada Tuhan.

Tradisi ini kemudian dilanjutkan oleh kerajaan-kerajaan Islam berikutnya, seperti Kerajaan Mataram Islam. Di masa Mataram, Selikuran menjadi bagian penting dari ritual keagamaan keraton. Raja dan para abdi dalem (pelayan keraton) melakukan berbagai kegiatan ibadah, seperti membaca Al-Quran, berzikir, dan berdoa bersama.

Selain itu, tradisi Selikuran juga menyebar ke masyarakat luas. Masyarakat Jawa mulai mengadakan berbagai kegiatan di masjid dan mushola, seperti tadarus Al-Quran, ceramah agama, dan buka puasa bersama. Mereka juga menghias rumah dan lingkungan sekitar dengan lampu-lampu dan obor untuk menyambut malam Lailatul Qadar.

Selikuran di Keraton: Ritual Khusyuk dan Penuh Makna


Selikuran di Keraton: Ritual Khusyuk dan Penuh Makna

Di lingkungan keraton, Selikuran bukan sekadar tradisi, melainkan sebuah ritual yang sakral dan penuh makna. Ada beberapa tahapan penting dalam pelaksanaan Selikuran di keraton, di antaranya:

1. Persiapan Matang

Beberapa hari sebelum malam Selikuran, para abdi dalem keraton sudah mulai melakukan persiapan. Mereka membersihkan dan menghias lingkungan keraton, menyiapkan sesaji (persembahan), dan melatih gamelan untuk mengiringi ritual Selikuran. Persiapan ini menunjukkan kesungguhan dan penghormatan keraton terhadap malam Lailatul Qadar.

2. Arak-Arakan Obor

Salah satu ciri khas Selikuran di keraton adalah arak-arakan obor. Para abdi dalem membawa obor yang menyala dan berjalan beriringan mengelilingi keraton. Arak-arakan ini melambangkan penerangan hati dan pikiran, serta upaya untuk mengusir kegelapan dan kejahatan.

3. Pembacaan Doa dan Zikir

Setelah arak-arakan obor selesai, para abdi dalem berkumpul di masjid keraton untuk melakukan pembacaan doa dan zikir. Mereka memohon kepada Tuhan agar diberikan keberkahan, ampunan, dan keselamatan. Pembacaan doa dan zikir ini dilakukan dengan khusyuk dan penuh penghayatan.

4. Penyediaan Nasi Berkah

Sebagai bentuk syukur atas nikmat yang telah diberikan Tuhan, keraton juga menyediakan nasi berkah untuk dibagikan kepada masyarakat. Nasi berkah ini biasanya berisi nasi putih, lauk pauk, dan sayuran yang dimasak dengan bumbu khusus. Masyarakat percaya bahwa nasi berkah ini membawa keberuntungan dan keselamatan.

Selikuran di Masyarakat Jawa: Tradisi yang Mengakar Kuat


Selikuran di Masyarakat Jawa: Tradisi yang Mengakar Kuat

Di masyarakat Jawa, Selikuran juga dirayakan dengan meriah dan penuh semangat. Meskipun tidak seformal di keraton, tradisi Selikuran di masyarakat tetap memiliki nilai-nilai luhur yang sama, yaitu mendekatkan diri kepada Tuhan, berbagi kebahagiaan, dan mempererat tali silaturahmi.

Berikut adalah beberapa tradisi Selikuran yang umum dilakukan oleh masyarakat Jawa:

a. Tadarus Al-Quran dan Ceramah Agama

Di masjid dan mushola, masyarakat mengadakan tadarus Al-Quran secara bersama-sama. Mereka membaca Al-Quran secara bergantian dan berusaha memahami makna yang terkandung di dalamnya. Selain itu, juga diadakan ceramah agama yang membahas tentang keutamaan bulan Ramadan dan malam Lailatul Qadar.

b. Buka Puasa Bersama dan Sedekah

Buka puasa bersama menjadi momen yang istimewa di malam Selikuran. Masyarakat berkumpul di masjid atau mushola untuk berbuka puasa bersama. Mereka membawa makanan dan minuman untuk dinikmati bersama-sama. Setelah itu, mereka juga bersedekah kepada fakir miskin dan anak yatim.

c. Menghias Rumah dan Lingkungan Sekitar

Untuk menyambut malam Lailatul Qadar, masyarakat menghias rumah dan lingkungan sekitar dengan lampu-lampu dan obor. Mereka juga memasang umbul-umbul dan spanduk yang bertuliskan ucapan selamat menyambut Lailatul Qadar. Suasana malam Selikuran menjadi semakin meriah dan berwarna.

d. Mengunjungi Makam Leluhur

Sebagian masyarakat Jawa juga memiliki tradisi mengunjungi makam leluhur di malam Selikuran. Mereka membersihkan makam, menaburkan bunga, dan mendoakan arwah leluhur. Tradisi ini merupakan bentuk penghormatan kepada para leluhur dan upaya untuk mengingat jasa-jasa mereka.

Makna dan Filosofi di Balik Tradisi Selikuran


Makna dan Filosofi di Balik Tradisi Selikuran

Tradisi Selikuran bukan sekadar serangkaian ritual dan kegiatan, melainkan juga mengandung makna dan filosofi yang mendalam. Beberapa makna dan filosofi yang terkandung dalam tradisi Selikuran adalah:

* Mencari Ridho Allah SWT: Selikuran merupakan wujud upaya manusia untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan mencari ridho-Nya. Dengan melakukan ibadah dan amal kebaikan di malam Lailatul Qadar, diharapkan dosa-dosa diampuni dan pahala dilipatgandakan.

* Menyucikan Diri: Selikuran juga merupakan momentum untuk menyucikan diri dari segala dosa dan kesalahan. Dengan introspeksi diri dan memohon ampunan kepada Tuhan, diharapkan hati dan pikiran menjadi bersih dan jernih.

* Mempererat Tali Silaturahmi: Selikuran menjadi ajang untuk mempererat tali silaturahmi antar sesama. Dengan berkumpul, berbagi, dan bermaaf-maafan, diharapkan hubungan antar manusia menjadi semakin harmonis.

* Menjaga Warisan Budaya: Selikuran merupakan bagian dari warisan budaya Jawa yang perlu dilestarikan. Dengan melestarikan tradisi Selikuran, kita turut menjaga identitas dan jati diri bangsa.

Selikuran di Era Modern: Antara Tradisi dan Teknologi


Selikuran di Era Modern: Antara Tradisi dan Teknologi

Di era modern ini, tradisi Selikuran mengalami sedikit perubahan dan penyesuaian. Teknologi informasi dan komunikasi mempermudah masyarakat untuk mengakses informasi tentang Selikuran dan Lailatul Qadar. Ceramah agama dan kajian Islam juga dapat diikuti secara online melalui berbagai platform media sosial.

Namun, esensi dari tradisi Selikuran tetap sama, yaitu mendekatkan diri kepada Tuhan dan berbuat kebaikan. Masyarakat tetap antusias mengikuti kegiatan Selikuran di masjid dan mushola. Mereka juga memanfaatkan teknologi untuk menyebarkan pesan-pesan kebaikan dan mengajak orang lain untuk berlomba-lomba dalam beribadah.

Meskipun demikian, kita juga perlu berhati-hati agar tradisi Selikuran tidak kehilangan makna dan nilai-nilai luhurnya. Jangan sampai Selikuran hanya menjadi ajang pamer atau sekadar mengikuti tren. Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa menghayati makna Selikuran dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Yuk, Lestarikan Tradisi Selikuran!


Yuk, Lestarikan Tradisi Selikuran!

Sebagai generasi penerus, kita memiliki tanggung jawab untuk melestarikan tradisi Selikuran. Ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk melestarikan tradisi ini, di antaranya:

1. Mengikuti Kegiatan Selikuran: Ikut serta dalam kegiatan Selikuran di masjid, mushola, atau lingkungan sekitar. Dengan mengikuti kegiatan Selikuran, kita bisa merasakan langsung suasana khusyuk dan penuh berkah di malam Lailatul Qadar.

2. Mempelajari Makna dan Filosofi Selikuran: Cari tahu lebih banyak tentang makna dan filosofi yang terkandung dalam tradisi Selikuran. Dengan memahami makna dan filosofinya, kita bisa lebih menghargai tradisi ini dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

3. Menyebarkan Informasi tentang Selikuran: Bagikan informasi tentang Selikuran kepada teman, keluarga, dan orang-orang di sekitar kita. Dengan menyebarkan informasi, kita bisa mengajak orang lain untuk turut serta melestarikan tradisi ini.

4. Menggunakan Teknologi untuk Melestarikan Selikuran: Manfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk mempromosikan tradisi Selikuran. Buat konten-konten menarik tentang Selikuran di media sosial, seperti foto, video, atau artikel.

Dengan melestarikan tradisi Selikuran, kita tidak hanya menjaga warisan budaya Jawa, tetapi juga turut serta dalam membangun masyarakat yang religius, harmonis, dan sejahtera.

Nah, itulah cerita tentang tradisi Selikuran di keraton dan masyarakat Jawa. Semoga artikel ini bermanfaat dan menambah wawasan kita tentang kekayaan budaya Indonesia. Mari kita lestarikan tradisi Selikuran agar tetap hidup dan lestari di tengah arus modernisasi! Sampai jumpa di artikel selanjutnya!

Posting Komentar untuk "Tradisi Selikuran: Lailatul Qadar di Keraton & Masyarakat Jawa"